Tradisi merupakan suatu gambaran sikap serta perilaku manusia yg sudah berproses dalam waktu lama serta dilakukan secara turun-temurun dimulai menurut nenek moyang.Tradisi yg sudah membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak serta berbudi pekerti seseorang. Tradisi atau kebiasaan, dalam pengertian yg paling sederhana merupakan sesuatu yg sudah dilakukan sejak lama serta menjadi bagian menurut kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya menurut suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yg sama.

Dalam falsafah hidup masyarakat Jawa, berbakti kepada kedua orang tua serta para leluhur yg menurunkan merupakan suatu ajaran yg diagungkan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, ungkapan rasa berbakti hanya diucapkan dalam ikrar doa-doa puji-pujian yg ditujukan kepada leluhurnya. Salah satu wujud konkrit rasa berbakti tersebut merupakan berupa sesaji, yang di maksud menjadi persembahan atas segala rasa hormat serta rasa terima kasih tak terhingga kepada para leluhur yang sudah wafat. 

Berikut ini merupakan beberapa contoh sajian persembahan menjadi ungkapan rasa menghormati kepada leluhur (sesaji). Masing-masing uborampe mempunyai karakteristik khas serta makna yg dalam. Tanpa memahami makna, rasanya persembahan sesaji akan terasa hambar serta praktis mengakibatkan prasangka buruk, dikenal menjadi sesat, tak muncul tuntunannya, serta syirik. 

Adapun makna-makna bunga tersebut yg sarat akan makna filosofis merupakan sbb :

1.Kembang Kanthil (kanthi laris, tansah kumanthil)

Atau simbol pepeling bahwa untuk meraih ngelmu iku kalakone kanthi laris. Lekase kalawan kas, tegese kas iku nyantosani. Maksudnya, untuk meraih ilmu spiritual serta meraih kesuksesan lahir serta batin, setiap orang cukup hanya menggunakan memohon-mohon doa. Kesadaran spiritual tak akan dapat dialami secara lahir serta batin tanpa adanya penghayatan akan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari (lakutama atau perilaku yg utama).

Bunga kanthil berarti pula, adanya tali rasa, atau tansah kumanthil-kanthil, yg bermakna pula kasih sayang yg mendalam tiada terputus. Yakni curahan kasih sayang kepada seluruh makhluk, kepada kedua orang tuanya serta para leluhurnya. Bukankah hidup ini kepada dasarnya untuk saling memberi serta menerima kasih sayang kepada seluruh makhluk?

2.Kembang Melati (rasa melad saka njero ati)

Dalam berucap serta berbicara hendaknya kita selalu mengandung ketulusan menurut hati nurani yg paling dalam. Lahir serta batin haruslah selalu sama, kompak, tidak munafik. Menjalani segala sesuatu tidak asal bersuara, tidak asal-asalan. Kembang melati, atau mlathi, bermakna filosofis bahwa setiap orang melakukan segala kebaikan hendaklah melibatkan hati (sembah kalbu), jangan hanya dilakukan secara motilitas ragawi saja.

3.Kembang Kenanga (keneng-a)

Atau gapailah..! Segala keluhuran yg sudah dicapai sang para pendahulu. Berarti generasi penerus seyogyanya mencontoh perilaku yg baik serta prestasi tinggi yg berhasil dicapai para leluhur semasa hidupnya. Kenanga, kenang-en ing angga. Bermakna filosofis agar agar anak turun selalu mengenang, seluruh pusaka warisan leluhur berupa benda-benda seni, tradisi, kesenian, kebudayaan, filsafat, serta ilmu spiritual yg sangat mengandung nilai-nilai kearifan lokal.

4.Kembang Mawar (mawi arsa)

Dengan kehendak atau niat. Menghayati nilai-nilai luhur hendaknya menggunakan niat. Mawar, atau awar-awar ben tawar. Buatlah hati menjadi tawar alias lapang dada. Jadi niat tersebut harus sinkron ketulusan, menjalani segala sesuatu tanpa pamrih (tapa ngrame) sekalipun pamrih mengharap-harap pahala. 

5.Mawar Merah serta Mawar Putih

Mawar melambangkan proses terjadinya atau lahirnya diri kita ke dunia fana. Yakni lambang dumadine jalma menungsa melalui langkah Triwikrama. Mawar merah melambangkan ibu. Ibu merupakan daerah per-empu-an di dalam mana jiwa-raga kita diukir. Dalam bancakan weton dilambangkan juga berupa bubur merah (bubur anggun gula jawa).

Di balik seluruh itu sejatinya memuat nilai adiluhung menjadi pusaka warisan leluhur, nenek moyang kita, nenek moyang bangsa ini menjadi wujud sikapnya yg bijaksana dalam memahami jagad raya serta segala isinya. Doa tak hanya diucap menurut verbal. Tetapi juga diwujudkan dalam bergai simbol serta lambang agar hakekat pepeling/ajaran yg muncul di dalamnya praktis diingat-ingat untuk selalu dihayati dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Ajaran adiluhung yg di dalamnya penuh arti, sarat menggunakan filsafat kehidupan. Kaya akan makna alegoris perihal moralitas serta spiritualitas dalam memahami jati diri alam semesta, jagad nusantara, serta jagad mungil yg muncul dalam diri kita pribadi.