Ilmu pelet bukan hal asing bagi masyarakat Jawa pada khususnya. Baik hanya diketahui dari mulut ke mulut maupun dalam berbagai tayangan media saat ini. 

Menurut hikayat Pulau Jawa, pelet akan terus ada dan berkembang dengan berbagai kepentingan di dalamnya. Menurut hikayat, pelet tercetus dari salah satu legenda Gunung Ceremai di Jawa Barat. Yakni, nama pelet diambil dari nama seseorang yang konon sangat sakti yang bernama Nini Pelet.

Nini pelet merupakan seorang tokoh yang merebut kitab mantra asmara yang diciptakan  tokoh sakti  bernama Ki Buyut Mangun Tapa. Salah satu yang ada dari isi kitab tersebut adalah ajian jaran goyang yang dikenal sangat ampuh untuk memikat hati lawan jenis.  Dari kitab mantra asmara inilah, ilmu pelet berkeliaran dalam masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan zaman itu serta menyeberang sampai saat ini.

Dari sisi lain, ternyata ilmu pelet tidak sekadar untuk mencelakakan manusia lain saja. Tapi, juga membantu untuk merebut kembali ‘miliknya’ yang sah. Misalnya, saat suami atau istri sah terkena pelet orang lain. Maka, cara merebutnya juga dengan pelet yang tentunya lebih memiliki kekuatan mistik lebih tinggi.

Salah satu ilmu yang juga tidak boleh dianggap remeh yaitu ilmu pelet lintrik atau ngelintrik. Bahkan pelet lintrik ini dikategorikan sebagai salah pelet hitam yang amat ampuh untuk menundukkan target-nya. Apabila dipergunakan untuk perihal negatif, lintrik yang konon didapatkan dari kekuatan jin atau makhluk halus yang dimasukkan pada sarana pelet (biasanya media kartu Belanda atau biasa disebut domino), ketika proses ritual berjalan bisa membawa dampak pada korban seperti mayat hidup. Bahkan, sering membawa dampak korbannya merasakan sakit yang tak tertahankan pada kepalanya. Siang kedinginan dan kalau malam akan kepanasan.

Pelet lintrik bisa dikatakan sebagai peletnya kaum hawa. Pada zaman dahulu ilmu ini banyak digunakan oleh para PSK untuk memikat calon pelanggannya agar tidak berpindah ke orang lain. Lambat laun berkembang untuk berbagai hal negatif dan destruktif. Sehingga pelet lintrik menjadi salah satu jenis pelet paling gelap dan menakutkan. Sekaligus tentunya memiliki jaminan keberhasilan saat dipergunakan oleh kaum hawa yang memakainya.

Ada beberapa tahapan ritual yang harus dilewati agar seseorang dapat menguasai ilmu pelet lintrik ini. Dimulai dengan harus mencuri kartu domino yang akan digunakan sebagai media pelet sampai dengan harus melakukan ritual bolak-balik ke kuburan keramat seorang diri. Tanpa busana sehelai pun dan juga tidak boleh terlihat oleh orang satu pun.

Setelah itu, ada lagi tahap penggorengan media kartu yang telah diritualkan sampai dengan pembelajaran ilmu pembacaan kartu untuk dapat melakukan eksekusi nantinya.

Istilah kartu digoreng adalah kartu yang sudah ditanam selama satu bulan di taruh di dalam gendok (baskom terbuat dari tanah liat yang berisi dedak padi) dan diberi sesaji serta dibakari kemenyan. 

Selesai ritual goreng kartu ini, perangkat sudah siap untuk digunakan untuk memikat seseorang. Syarat lainnya adalah kartu ini tidak boleh dilihat oleh orang lain. Penggunaan kartu cukup dicampurkan dengan foto atau pakaian orang yang dimaksud dan diberi sesaji, dibakari kemenyan dan mantra tertentu.

Itulah penjelasan mengenai Ilmu Pelet Lintrik yang saat ini sudah menjadi legenda. Sebenarnya semua ilmu itu baik, jika jatuh pada orang yang tepat, maka penggunaannya akan lebih bijaksana. Jika suatu ilmu jatuh pada orang yang salah, maka ada kemungkinan ilmu tersebut akan melenceng dari kaidahnya.